![]() |
| Sopir Taksi yang sukses membina keluarganya_By.As |
“Maaf, ke mana nih pak?”, tanya sopir taksi
yang menjemput saya di hotel dengan ramah dalam logat Sundanya yang kental. “Ke
bandara, pak”. “Gak terlambat ya pak. Pesawat saya jam 9.30. Sekarang jam 8.
30. Ada waktu satu jam”, jawab saya. “Oh, mepet sekali pak. Soalnya jalan di
sini sering macet. Kita berdo’a saja agar semua lancar, sehingga bapak gak
terlambat”, sahut sang sopir taksi setengah baya itu. “Kalau begitu, agak cepat
saja pak”, pinta saya dengan agak panik. “Memangnya bapak mau ke mana?” tanya
dia . “Saya mau ke Surabaya, pak. Memakai pesawat Sriwijaya”, jawab saya. “Ok
pak. Kita cepat ya. Soalnya bisa memakan waktu satu jam dari sini ke bandara”,
sahut sopir. Taksi melaju dengan kencang, sampai hampir saja bersenggolan
dengan kendaraan lain yang sama-sama melaju kencang. Beberapa kali sopir itu
meminta maaf karena membuat saya tidak nyaman. “Gak apa-apa pak. Ini kan
gara-gara saya yang minta cepat, karena takut terlambat. Saya kurang
antisipatif”, sambung saya untuk meyakinkan bahwa bukan dia yang salah.

